Menuangkan gagasan itu tidak gampang. Baik itu dalam bentuk verbal maupun tulisan. Menggoreskan pena, eh sentuh tombol keyboard ponsel jadi tulisan, itu susah.
Bagi penulis, ia harus mampu mencelupkan pena di tinta hitam, untuk melukiskan cahaya. Berpendar-pendar atau berkelip-kelip yang enak dibaca dan dimengerti pembaca.
Untuk menulis yang enak dibaca, salah satu syaratnya, –tak bermaksud menggurui– perlu charging pikiran dengan banyak membaca.
Hari-hari ini, saya baca buku lawas karya Ali Syariati: “Paradigma Kaum Tertindas, Sebuah Kajian Sosiologi Islam”
25 tahun lampau, buku ini saya beli di emperan pasar loak Jl. Kwitang Senen Jakpus itu. Pernah saya baca tuntas. Kini dibaca kembali.
Dr Ali Syariati, merupakan intelektual Iran. Dianggap ideolog besar. Terbunuh agen rahasia Rezim Syah Iran di London. Tak lama sebelum Revolusi Iran pimpinan Ayotollah Khomaini pecah 1979.
Membaca kembali buku ini, saya tambah paham dan mengerti Bangsa Iran. Dari sudut pandang sosiolog Ali Syariati.










