Catatan Berserakan
.
Tawang Alun: Cerita Kecil “Nama Kurang Islami”
.
Oleh: Dwiki Setiyawan*)
.
Kisah “nama kurang Islami” Tawang Alun di Kongres IX HMI di Kota Malang Jawa Timur pada 1969. Banyak cara dan teknik dilakukan orang untuk menjatuhkan lawan politik. Salah satunya dengan isu beraroma agama.
.
Akan tetapi, yang menimpa calon kuat Ketua Umum PB HMI Tawang Alun di Kongres IX HMI Malang Jatim tahun 1969 benar-benar keterlaluan. Ia didiskreditkan sedemikian rupa mulai wudlu hingga shalatnya yang kacau, hanya lantaran namanya ditelinga tidak Islami: Tawang Alun.
.
Cerita ringan unik tersebut saya dapatkan dari senior alumni HMI Cabang Solo Jawa Tengah, almarhum Nuryasman Ilyas yang pernah Ketua Umum Dewan Pimpinan Cabang Partai Persatuan Pembangunan (DPC PPP) Kota Solo. Mbah Nur –demikian sapaan akrabnya– merupakan peserta Kongres HMI Malang yang juga tim sukses Tawang Alun mewakili Badan Koordinasi Himpunan Mahasiswa Islam (Badko HMI) Jawa Bagian Tengah.
.
Padahal, dimata orang-orang dekat dan kader HMI se-Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta, Tawang yang alumni UGM Yogyakarta dan Ketua Umum Badko HMI Jabagteng itu adalah pribadi yang amat religius.
.
Ibadahnya tekun: rajin puasa sunat Senin Kamis, acap shalat malam hingga shalat wajib tak pernah lalai. Disamping itu, Tawang terkenal cerdas, keilmuannya tinggi dan terampil memimpin. Sebelum wafat, Tawang Alun pernah memimpin LP3ES, lembaga penelitiaan terkemuka Indonesia yang terkenal dengan peneqbitan jurnal Prisma.
.
Entah karna soal nama atau sebab lainnya, yang jelas Tawang Alun gagal merebut Ketum PB HMI di Malang. Padahal ia kandidat terkuat. Nurcholish Madjid pun untuk kedua kali terpilih sebagai ketum –yang Cak Nur katakan momen Kongres HMI Malang Tahun 1969 itu sebagai “kecelakaan sejarah”.
.
Tawang Alun (20 Agustus 1941 – 16 Desember 1988) adalah seorang aktivis gerakan mahasiswa pada 1960-an, lulusan Fakultas Teknik UGM jurusan Teknik Kimia (1966), dan memperoleh Ph.D untuk Ilmu Ekonomi dengan bidang studi Ilmu Ekonometrika dan Ekonomi Pembangunan dari Vanderbilt University, Nashville, Tennesse, AS (1984). Pernah menjadi Direktur LP3ES untuk periode 1973-1976, Wakil Direktur LPEM UI (1976-1978), dan staf pengajar Fakultas Pasca Sarjana UI hingga meninggalnya.
.
Buku karya Tawang Alun yang terkenal, yakni: Analisa Ekonomi Utang Luar Negeri, diterbitkan oleh LP3ES Jakarta.
.
Buku ini menyajikan suatu pandangan eksak untuk mengestimasi utang luar negeri negara-negara berkembang dengan analisa ekonometris. Dengan melihat fluktuasi utang analisa ini memberikan dengan sangat jelas bahwa meningkatnya ekspor luar negeri justru berimplikasi pada peningkatan permintaan akan utang –kesimpulan yang tentu berhubungan erat dengan dua strategi yang diterapkan negara-negara kreditor selama ini, yakni ekonomi berorientasi ekspor dan kebijakan substitusi impor.
.
Yang lebih dramatis, buku ini juga menyimpulkan enigma tragis ini: bahwa meningkatnya beban pelunasan utang akan meningkatkan permintaan dan penawaran utang.
.
***
.
Kembali ke topik awal.
Apa pelajaran dari kisah ringan diatas? Harus diakui bahwa kita masih terpenjara dan terpedaya oleh bungkus ketimbang isi. Nama daripada laku. Judul dibanding substansi.
.
Sekarang pun nampak nyata dihadapan kita, orang menuduh orang dari hal sepele laksana buih mengemuka di permukaan. Mutiara hakikat didalamnya sengaja ditutup-tutupi. Hanya, demi ambisi dan nafsu berkuasa…
.
Jakarta, 4 Mei 2026
.
*) Dwiki Setiyawan, Sekretaris Eksekutif Majelis Nasional KAHMI
Tawang Alun: Cerita Kecil “Nama Kurang Islami”










