Beranda / Siapa Dia / Achmad Tirtosudiro: Mengabdi di Tiga Zaman (Layak Diperjuangkan sebagai Pahlawan Nasional)

Achmad Tirtosudiro: Mengabdi di Tiga Zaman (Layak Diperjuangkan sebagai Pahlawan Nasional)

Achmad Tirtosudiro: Mengabdi di Tiga Zaman

(Layak Diperjuangkan sebagai Pahlawan Nasional)

Oleh: Toto Izul Fatah

Tak banyak tokoh yang punya jejak panjang perjuangan untuk mengabdi di negeri ini. Letjen (Purn) TNI AD Achmad Tirtosudiro, termasuk salah satunya. Putra asli Plered, Purwakarta, Jawa Barat, yang lahir pada April 1922 ini bukan hanya seorang perwira tinggi TNI AD berpangkat letnan jenderal. Ia adalah sosok yang jejak pengabdiannya menjulur dari masa perjuangan, menembus era pembangunan Orde Baru, lalu tetap hadir pada masa transisi Reformasi. Karena itu, menyebut Achmad Tirtosudiro sebagai tokoh yang “mengabdi di tiga zaman” bukanlah pujian berlebihan, melainkan catatan yang adil atas panjangnya kesetiaan hidupnya kepada negara.

Saya sendiri kenal Achmad Tirtosudiro saat dipercaya  menyusun buku biografi dirinya bersama Kang Ahmad Zacky Siradj dan Dasman Djamaluddin, senior saya di HMI. Dari buku yang kami susun tersebut, saya sampai pada kesimpulan, bahwa yang membuat nama Achmad Tirtosudiro layak dikenang bukan semata karena ia pernah menduduki banyak jabatan, melainkan karena hampir seluruh jabatan itu berada di titik-titik penting kehidupan negara.

Ia pernah berada di medan organisasi kemahasiswaan Islam pada masa republik masih sangat muda, kemudian meniti karier militer hingga menjadi letnan jenderal. Lalu, setelah itu,  ia juga dipercaya mengurus logistik pangan, diplomasi, pariwisata, pendidikan tinggi, hingga memimpin Dewan Pertimbangan Agung (DPA) pada masa akhir eksistensi lembaga itu.

Rekam jejak seperti ini memperlihatkan kapasitas yang langka. Ia adalah sosok yang  tegas sebagai tentara, lentur sebagai diplomat, matang sebagai birokrat, dan teduh sebagai tokoh pendidikan.

Di masa awal republik, Achmad Tirtosudiro sudah menunjukkan bahwa dirinya bukan penonton sejarah. Pengurus Besar HMI mencatat namanya dalam jajaran ketua umum awal organisasi itu pada periode 1948–1949, dan sejarah HMI juga menautkannya dengan pembentukan Corps Mahasiswa dalam situasi genting 1948.

Artinya, sejak muda ia telah terlibat dalam fase ketika kaum terpelajar tidak hanya diminta pandai berpikir, tetapi juga siap berdiri di garis depan menjaga republik. Ini penting digarisbawahi. Sebab banyak tokoh baru tampak sesudah negara mapan. Achmad Tirtosudiro justru sudah ikut bergerak ketika republik masih rapuh dan penuh ancaman.

Sesudah itu, jalan hidupnya mengarah ke dunia militer dan negara. Pusat Sejarah TNI mencatat bahwa ia meniti karier hingga mencapai pangkat Letjen TNI (Purn.), sebuah capaian yang tidak lahir dari kebetulan, melainkan dari disiplin panjang.

Namun yang lebih menarik, Achmad Tirtosudiro tidak berhenti sebagai tokoh barak. Ia menyeberang ke ruang-ruang sipil strategis dengan tetap membawa watak dasar seorang pengabdi. Hingga, pada 1966 ia tercatat sebagai Kepala Bulog, lalu menjadi Sekretaris Sektor Penyediaan dan Penyaluran Pangan. Ini jelas bukan posisi pinggiran.

Mengurus pangan berarti mengurus salah satu urat nadi paling sensitif dalam kehidupan negara. Di banyak bangsa, stabilitas politik sering kali runtuh bukan pertama-tama karena pidato, melainkan karena perut rakyat tak terurus. Di titik itu, Achmad Tirtosudiro pernah dipercaya berdiri di garda depan.

Setelah fase pangan dan logistik, pengabdiannya meluas ke diplomasi. Ia pernah menjadi Duta Besar RI di Bonn, Jerman Barat, pada 1973–1976, lalu menjadi Duta Besar RI untuk Arab Saudi, Yaman, dan Oman pada 1982–1985. Penugasan seperti ini menunjukkan bahwa negara memandangnya bukan sekadar administrator, tetapi figur yang cukup dipercaya untuk membawa nama Indonesia di panggung luar negeri.

Terlebih, Arab Saudi mempunyai arti strategis bagi Indonesia, bukan hanya dalam hubungan diplomatik biasa, tetapi juga dalam urusan keislaman dan mobilitas jamaah haji. Tugas semacam ini menuntut bukan hanya kecakapan protokoler, melainkan juga kewibawaan pribadi, keluasan wawasan, serta kemampuan menjembatani kepentingan negara di ruang internasional.

Yang juga layak diapresiasi, Achmad Tirtosudiro tidak menutup pengabdiannya di lingkar kekuasaan semata. Ia masuk ke dunia pendidikan dan memimpin Universitas Islam Bandung (UNISBA). Dokumen resmi UNISBA  mencatat ia menjabat sebagai Rektor  pada 1986–1995.

Bagi Jawa Barat, fakta ini penting sekali. Sebab di sini tampak seorang putra daerah tidak hanya naik ke panggung nasional, tetapi juga kembali mengabdi lewat pembangunan institusi intelektual di tanahnya sendiri. Menjadi rektor bukan pekerjaan simbolik. Ia memerlukan visi kelembagaan, ketelatenan membangun tradisi akademik, dan kemampuan menjaga otoritas moral. Bahwa seorang jenderal bisa memimpin universitas Islam selama hampir satu dekade menunjukkan adanya kualitas kepemimpinan yang melampaui sekat profesi.

Puncak simbolik dari perjalanan panjang itu tampak ketika Achmad Tirtosudiro dipercaya memimpin Dewan Pertimbangan Agung pada 1999–2003. Sejumlah sumber mencatat ia adalah Ketua DPA terakhir sebelum lembaga itu dihapus pada 31 Juli 2003.

Penempatan itu terjadi pada masa Indonesia sedang menjalani transisi yang tidak ringan: dari sisa-sisa krisis, dari guncangan politik, dan dari perubahan besar dalam sistem ketatanegaraan.

Pada masa-masa seperti itu, negara biasanya tidak mencari figur yang sekadar gaduh, melainkan sosok yang matang, kaya pengalaman, dan bisa menjadi titik tenang. Fakta bahwa Achmad Tirtosudiro ditempatkan di sana memperlihatkan bobot moral dan kenegaraan yang ia miliki.

Di sinilah letak keistimewaan Achmad Tirtosudiro. Ia bukan tokoh yang besar karena kontroversi. Ia besar karena kontinuitas pengabdian. Ia tidak dibentuk oleh satu momentum yang meledak, melainkan oleh kesanggupan untuk tetap berguna di berbagai fase sejarah. Dari HMI ke TNI, dari Bulog ke diplomasi, dari pariwisata ke kampus, dan dari ruang birokrasi ke lembaga tinggi negara.

Dari situ, kita melihat haris hidup Achmad Tirtosudiro memperlihatkan satu hal, bahwa republik ini dibangun juga oleh orang-orang yang bekerja lama, senyap, dan setia. Itulah jenis ketokohan yang sering luput dari budaya politik kita hari ini, yang terlalu mudah mengagungkan popularitas sesaat dan terlalu cepat melupakan kesetiaan jangka panjang.

Sebagai putra Jawa Barat, Achmad Tirtosudiro semestinya mendapat tempat lebih terhormat dalam ingatan kolektif masyarakat Sunda dan Indonesia. Purwakarta tidak hanya melahirkan anak daerah yang berhasil, tetapi juga melahirkan seorang negarawan yang jejak hidupnya menyentuh banyak sektor strategis bangsa.

Dalam dirinya, Jawa Barat memiliki contoh bahwa pengabdian tidak harus bising untuk menjadi besar. Ada ketokohan yang justru tumbuh dari disiplin, keluasan peran, dan kesediaan untuk tetap bekerja dalam berbagai suasana politik tanpa kehilangan orientasi kepada negara.

Karena itu, mengenang Achmad Tirtosudiro bukan sekadar menoleh ke masa lalu. Ini juga soal pelajaran bagi masa kini. Di tengah zaman yang gemar menakar manusia dari pencitraan dan sorotan layar, sosok seperti Achmad Tirtosudiro mengingatkan bahwa ukuran terbesar seorang anak bangsa tetaplah pengabdian. Bukan seberapa sering namanya disebut, tetapi seberapa banyak beban negara yang pernah ia pikul. Bukan seberapa nyaring suaranya, tetapi seberapa lama ia bertahan dalam tanggung jawab.

Dan dalam ukuran itu, Achmad Tirtosudiro berdiri sebagai salah satu putra terbaik Jawa Barat. Ia seorang prajurit, negarawan, pendidik, dan pelayan republik yang benar-benar mengabdi di tiga zaman.

Atas dasar itulah, saya berpendapat, Achmad Tirtosudiro sangat layak untuk dipertimbangkan menjadi salah satu nominasi Pahlawan Nasional dari Jawa Barat.

Jakarta, April 2026

Toto Izul Fatah

Direktur Eksekutif Citra Komunikasi LSI Denny JA

Ketua Umum IKA PP Ibadurrahman YLPI Tegalega Sukabumi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *