Pagi itu tidak ada yang istimewa. Saya bangun seperti biasa, membuat kopi, lalu duduk di depan meja kerja yang sebenarnya sudah cukup lama tidak benar-benar saya perhatikan.
Di atas meja itu ada beberapa hal: buku catatan, pulpen yang tintanya kadang macet, dan beberapa kertas yang entah sejak kapan menumpuk. Tidak rapi, tapi juga tidak sepenuhnya berantakan. Seperti pikiran kita kadang-kadang.
Saya tidak langsung bekerja. Hanya duduk, melihat, dan mencoba mengingat—sudah berapa lama saya menjalani hari-hari dengan pola yang sama, tapi tanpa benar-benar mencatat apa yang terjadi di dalamnya.
“Waktu tidak pernah kosong. Kita saja yang sering tidak hadir sepenuhnya di dalamnya.”
Beberapa minggu terakhir terasa cepat berlalu. Ada aktivitas, ada pekerjaan, ada pertemuan. Tapi kalau ditanya, apa yang benar-benar membekas, saya perlu waktu untuk menjawab.
Di situ saya mulai sadar, mungkin bukan karena tidak ada hal penting. Tapi karena saya tidak sempat memberi ruang untuk memahami apa yang terjadi.
Kita sering mengira bahwa hidup itu bergerak dari satu target ke target lain. Dari satu capaian ke capaian berikutnya. Padahal di antara itu semua, ada banyak hal kecil yang sebenarnya layak dicatat—percakapan singkat, perasaan yang muncul, bahkan kelelahan yang datang tanpa kita sadari.
Saya buka buku catatan yang sudah agak lama tidak terisi. Halamannya masih bersih. Agak ironis, karena hari-hari saya sebenarnya tidak kosong.
Saya mulai menulis satu dua kalimat. Tidak rapi, tidak juga dalam. Hanya mencoba jujur.
Tentang rasa lelah yang kemarin sempat diabaikan. Tentang percakapan dengan seseorang yang ternyata cukup membekas. Tentang hal-hal kecil yang kalau tidak ditulis, mungkin akan hilang begitu saja.
“Yang tidak kita catat, pelan-pelan akan kita lupakan—meskipun dulu sempat terasa penting.”
Menulis seperti ini bukan soal membuat sesuatu yang bagus. Ini lebih ke upaya untuk hadir. Untuk tidak sekadar lewat.
Saya jadi teringat, dulu kita terbiasa membuat catatan—notulen rapat, hasil diskusi, atau sekadar poin-poin penting. Bukan karena diwajibkan, tapi karena kita sadar bahwa ingatan manusia itu terbatas.
Sekarang, mungkin kita masih banyak mencatat. Tapi bentuknya berbeda—lebih banyak tersimpan di layar, lebih cepat, tapi juga lebih mudah hilang dari perhatian.
Pagi itu akhirnya berjalan seperti biasa. Saya tetap bekerja, tetap menjalani rutinitas. Tidak ada perubahan besar.
Tapi ada satu hal kecil yang saya rasa cukup berarti: saya kembali mencatat.
Bukan untuk siapa-siapa. Hanya untuk memastikan bahwa hari-hari yang saya jalani tidak benar-benar lewat tanpa jejak.







